KAMAR 13
“Van, udah malem nih ,gimana donk ?”
“Iya Van. Mana di luar hujan lagi !”
Ivan melihat ke sekelilingnya,”Nah … di depan ada penginapan tuh.”
“Terus … ?!?!”, Tanya Roman dan Uden kepada Ivan
“Kita ke sana lah, siapa tau ada kamar yang kosong.”
Mereka turun dari mobil menuju ke penginapan. Roman dan Uden berputar melihat sekeliling penginapan.
“Selamat malam mas.” Sapa resepsionis
“Malam Mbak … Disini masih ada kamar kosong ?”, Tanya Ivan
“Maaf mas, semua kamar sudah penuh. Yang tersisa hanya kamar nomor 13.” Jawab mbak resepsionis
Ivan berpikir sebentar …”nggak apa-apa deh ..” katanya kemudian.
“Van, katanya disitu serem ?” kata Uden sambil menarik tangan Ivan menjauh dari meja resepsionis.
“Gak ada penginapan lain apa ?” Tanya Uden.
Roman sekali lagi memperhatikan bagian dalam penginapan yang memang tampak klasik.
“Masa lo takut sih ?” ejek Uden
“Ah … kayak yang berani aja lo. Din, kalo lo dikasih liat penampakan gimana?”
“Ya … gue nggak akan diem aja”
“Weiisss … berani juga lo, Din” puji Roman ,”Emang lo mau ngapain ??”
“Gue mau kabur.”
“Euhh … dasar lo.”
“Bagaimana ? Jadi menginap ?” Tanya mbak resepsionis
“Jadi mbak.” Ivan menghampiri meja resepsionis mengambil kunci kamar 13.
Uden mengangkat ransel dengan ragu-ragu mengikuti Ivan dan teman-temannya berjalan menyusuri koridor. Kamar nomor 13 memang terletak di ujung koridor.
“tenang aja.” Ucap Edin kepada teman-temannya yang berwajah pucat.”Paling enggak serem-serem amat. Mbak-mbak bagian resepsionisnya aja cakep-cakep. Kecuali …… “
“Kecuali apa … ?”
“Kecuali kalo mbak-mbak resepsionisnya masih satu rumpunn ama kuntilanak.”
Mereka sudah sampai di depan pintu kamar nomor 13.
“Balik lagi aja yuk ?” ajak Uden
“Masa balik lagi, kita udah terlanjur ngasih DP buat kamar ini.”
“Van, lo yang buka pintunya ya …” kata Roman
“Siap ya, satu … dua … ti …”
“HUAAAHH …”
Mereka terkejut karena di depan mereka terdapat sebuah lukisan kakek tua.
“Man, lo yang masuk duluan.”
“Lo aja Den yang duluan ?”
“Daripada nggak ada yang masuk. Dan berhubung Cuma Edin yang berani disini. Lo aja yang masuk duluan.” Kata Ivan ke Edin
Edin pun masuk dengan berani. Sebenarnya dalam hatinya dia berkata,”Moga-moga aja ngga ada penampakan yang muncul.”
Kamar itu hanya terpasang lampu 5 Watt. Sesaat redup. Sesaat lagi terang dan lampu itu akhirnya padam.
Hujan di luar semakin deras di tambah kilat yang menyambar menerangi seluruh ruangan. Di saat seperti ini, mereka merasa dipandangi terus oleh kakek tua dalam lukisan.
“Udah tengah malem nih, tidur yuk.supaya besok subuh kita bisa check out .” ujar Uden
“Semoga disini subuhnya jam 2.” Ujar Uden
“Ada yang bawa senter ngga ?” Tanya Edin
“Den, tadi lo bawa senter kan ?”
“Ada di ransel.” Jawab Uden
Edin bergerak meraba-raba tempat tasnya, mencari ransel Uden. Tapi sampai kebosenan mencari tidak juga ketemu.
“Den, tas lo dimana sih ?” Tanya Edin sambil meraba-raba tempat tasnya.
“Di punggung gue.” Jawab Uden
“Heuuu … dasar, ngomong kek dari tadi.” Edin langsung menjitak kepala Uden di sela kegelapan.
“Lo mau kemana Din ?” tanya Ivan
“Ke kamar mandi. Lo mau ikut “
“engga ah, gue nitip aja ye.”jawab Ivan
Edin meraba-raba untuk menemukan sosok kamar mandi. Sementara tiga temannya meringkuk di tempat tidur. Dia yakin ketiga temannya tidak dapat tidur di situasi seperti ini.
Suasana kamar mandi itu memang dingin dan gelap, Edin hanya di bantu oleh cahaya dari senter, dia berusaha untuk melihat fasilitas apa saja yang terdapat di kamar mandi itu.
“HHUAAA …” Edin menjerit
“Eh …ehh … kenapa tuh si Edin ?” tanya Roman
“Kesana yuk.” Ajak Ivan
Mereka semua bergegas menghampiri Edin yang sedang bersembunyi ketakutan di bawah wastafel kamar mandi.
“Kenapa lo Din ?” Tanya Uden
“A … ada. D … darah …” jawab Edin
“Darah dimana ?”
Edin menunjukkan jari ke atas wastafel …
Dari kejauhan terdengar suara.
“Hi … hi … hi …”
“Heh Man, jangan ngetawain gue donk!” omel Uden
“Siapa yang ketawa … Lo kali Van?”
“Hi … hi … hi …” Suara itu terdengar kembali. Bulu kuduk mereka berdiri.
Mereka saling berpelukan karena ketakutan. Kilat menyambar menerangi seluruh ruangan. Saat itulah, Romsn melihat sosok putih dari kejauhan. Tanpa bicara , ia menundukan kepala melihat ke bawah.
“A …ada, Pu … putih …”
“Putih apaan, Man ?” Tanya Ivan
“A … ada. P … putih …” Roman pingsan seketika
“Roman, lo kok nggak solider sih ? Dari tadi kita kemana-mana barengan . Masa lo pingsan duluan.” Omel Uden
“Oke … kita nggak boleh takut ama yang begituan.” Ucap Ivan yang keberaniannya mulai muncul
Lalu Ivan bangun dari duduknya, tepat ia berdiri menghadap cermin di atas wastafel . Tapi ia menjerit saat cahaya senternya mengarah ke cermin. Tepat di belakangnya ada sesosok dengan jubah hitam. Dia tahu bahwa yang berdiri di belakangnya buka ke-3 temannya.
“CUT”
Lampu di ruangan menyala terang benderang,di sekiter mereka terdapat kamera-kamera yang tersembunyi. Seluruh kru bertepuk tangan . Salah seorang dari mereka menghampiri Ivan, Uden, Edin dan Roman yang sedang tertidur pulas.
“Bagus-bagus. Akting kalian begitu natural. Cuma tadi Ivan, teriakan lo kurang lepas, tapi cukup bagus.”
“Mas De kok nggak takut sih jadi sutradara film horror? Gue aja yang jadi pemainnya takut banget.” Tanya Edin
“Soal itu mah udah biasa.” Ujar Mas De
Mas De terlihat sangat senang sekali melihat darah bohongannya yang memakai kertas krep yang direndam semalaman.
Mas De, lebih tepatnya Dewan wiratma. Beliau adalah sutradara yang sudah terkenal seantero dunia akherat via neraka.
“Kita mulai ya …” Ucap Mas De kepada seluruh kru dan pemain.”Kita mulai dari pas Ivan kaget.” Ujar sutradara
Kamera siap. Cahaya siap. Penata suara siap. Lampu kamar mandi di gelapkan kembali dan seorang figuran dengan jubah hitam sudah berdiri pada tempatnya.
“A …”
“ACTION…”
NB : Bila ada kesamaan nama tokoh, tempat, cerita atau apapun yang menyangkut mohon di maafkan.
PEACE.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar